Translate

Jumat, 17 September 2010

Uji Potensi Desinfektan


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tuhan menciptakan berbagai makhluk di muka bumi ini.Mulai dari makhluk yang lebih besar hingga makhluk yang lebih kecil atau biasa disebut dengan mikroorganisme. Semua ciptaan itu tidaklah sia – sia. Setiap makhluk pasti memiliki kelebihan dan kekurangan.
Pada saat ini, mikroorganisme sangat membahayakan bagi kelangsungan hidup manusia. Salah satunya adalah bakteri. Bakteri dapat berada dimana-mana. Oleh sebab itu, pada zaman yang maju ini telah diciptakan berbagai produk yang dapat membunuh mikroba – mikroba tersebut. Salah satu produknya adalah berupa desinfektan. Hal ini muncul karena mengingat, bahwa pentingnya kebersihan itu dalamhidup. Selain bersih, juga akan meningkatnya angka kesehatan dalam masyarakat.
Dewasa ini, telah banyak beredar berbagai merek desinfektan. Dan masing – masingnya dikeluarkan oleh perusahaan yang berbeda – beda pula. Mereka saling bersaing dan berusaha agar produknya disenangi oleh konsumen. Mereka mau mengerjakan apa saja demi mengejar keuntungan. Ada sebagian dari mereka yang jujur dan ada juga yang berbohong kepada konsumen. Namun, sebagi konsumen kita harus hati – hati dalam memilih produk , terutama produk desinfektan ini. Oleh sebab itu, kita perlu mempunyai bukti akan kebenaran sebuah produk dan perlu mengetahui potensi produk itu dalam melakukan kerjanya. Untuk itu, perlu bagi kita untuk mengetahuipotensi suatu desinfektan dalam membunuh suatu mikroorganisme, yang mana dalam hal ini, desinfektan yang diambil adalah So Klin Lantai. Di samping itu, Pengujian terhadap desinfektan ini juga merupakan kurikulum pembelajaran dari sekolah. Sehingga penelitian mengenai desinfektan ini sangat perlu dan memberikan pengetahuan mengenai metode difusi cakram.
1.2 Identifikasi Masalah
1.2.1. Kebersihan lantai yang terkontaminasi oleh bakteri.
1.2.2. Lantai merupakan tempat aktivitas.
1.2.3. Metode difusi cakram digunakan untuk membuktikan kemampuan dari desinfektan yang bermerek so klin lantai.
1.3 Pembatasan Masalah
Dari identifikasi masalah di atas, dalam penelitian akan dilakukan pembuatan konsentrasi desinfektan, di mana dalam hal ini desinfektannya adalah so klin lantai dan mikroba yang akan dibiakkan adalah mikroba yang ada di udara.
Adapun indicator yang akan dianalisis adalah :
1. Potensi So Klin Lantai dalam membunuh mikroba.
2. Potensi mikroba terhadap So Klin Lantai.
3. Bentuk dan luas daerah halo yang terbentuk.
1.4 Perumusan Masalah
Sesuai dengan masalah yang dikemukakan pada identifikasi masalah maka perumusan masalah dari penelitian ini adalah bagaimanakah potensi So Klin Lantai dalam membunuh mikroba. Dari perumusan masalah tersebut , yang menjadi pertanyaan dalam penelitian ini adalah :
1. Apakah So Klin Lantai dapat membunuh mikroba – mikroba di udara yang menempel di lantai ?
2. Pada konsentrasi berapakah So Klin Lantai dapat membunuh mikroba yang efektif ?
3. Pada konsentrasi berapakah So Klin Lantai dapat membunuh mikroba dengan kurang efektif ?
4. Berapakah besar daerah halo yang tidak ditumbuhi mikroba yang kurang efektif ?
5. Berapakah besar daerah halo yang tidak ditumbuhi mikroba yang efektif ?
6. Mampukah So Klin Lantai membunuh mikroba – mikroba tersebut ?
7. Bagaimana pengaruh So Klin Lantai terhadap mikroba udara tersebut ?
1.5 Tujuan penelitian
Berdasarkan latar belakang di atas, maka tujuan penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui tentang metode difusi cakram.
2. Untuk mengetahui potensi So Klin Lantai dalam membunuh mikroorganisme.
3. Untuk mengetahui pada konsentrasi berapakah mikroorganisme terbunuh secara efektif.
4. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh So Klin Lantai terhadap mikroorganisme.
5. Untuk mengetahui perbandingan kemampuan membunuh mikroba pada masing – masing konsentrasi.
6. Untuk mengetahui hubungan luas daerah halo dengan konsentrasi So Klin Lantai.
1.6 Manfaat penelitian
1. Untuk memenuhi tugas mikrobiologi.
2. Untuk memberikan informasi kepada pembaca tentang bagaimana cara hidup sehat dan memberikan informasi tentang desinfektan itu sendiri.
3. Untukmeningkatkan angka kesehatan di kalangan masyarakat.
4. Bagi peneliti sendiri dapat melakukan pengembangan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan desinfektan dan pengaruhnya terhadap mikroba.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori
2.1.1 Desinfektan
Desinfektan didefinisikan sebagai bahan kimia atau pengaruh fisika yang digunakan untuk mencegah terjadinya infeksi atau pencemaran jasad renik seperti bakteri dan virus, juga untuk membunuh atau menurunkan jumlah mikroorganisme atau kuman penyakit lainnya. Sedangkan antiseptik didefinisikan sebagai bahan kimia yang dapat menghambat atau membunuh pertumbuhan jasad renik seperti bakteri, jamur dan lain-lain pada jaringan hidup. Bahan desinfektan dapat digunakan untuk proses desinfeksi tangan, lantai, ruangan, peralatan dan pakaian. Dalam pengertian lain, desinfektan adalah suatu bahan yang dapat membunuh atau menghambat pertumbuhan suatu mikroorganisme terutama mikroba atau bakteri pathogen atau membahayakan yang terdapat pada benda mati.
Dalam uji potensi desinfektan digunakan metode Difusi Cakram. Difusi adalah perpindahan zat (cair, gas atau zat-zat padat) dari larutan yang berkadar tinggi ke larutan berkadar rendah, sehingga kerapatan atau kadar larutan tersebut sam dimana-mana. Sedangkan cakram adalah sebuah bentuklingkaran yang mengelilingi sesuatu.
Pada dasarnya ada persamaan jenis bahan kimia yang digunakan sebagai antiseptik dan desinfektan. Tetapi tidak semua bahan desinfektan adalah bahan antiseptik karena adanya batasan dalam penggunaan antiseptik. Antiseptik tersebut harus memiliki sifat tidak merusak jaringan tubuh atau tidak bersifat keras. Terkadang penambahan bahan desinfektan juga dijadikan sebagai salah satu cara dalam proses sterilisasi, yaitu proses pembebasan kuman. Tetapi pada kenyataannya tidak semua bahan desinfektan dapat berfungsi sebagai bahan dalam proses sterilisasi.
Bahan kimia tertentu merupakan zat aktif dalam proses desinfeksi dan sangat menentukan efektivitas dan fungsi serta target mikroorganime yang akan dimatikan. Dalam proses desinfeksi sebenarnya dikenal dua cara, cara fisik (pemanasan) dan cara kimia (penambahan bahan kimia). Dalam tulisan ini hanya difokuskan kepada cara kimia, khususnya jenis-jenis bahan kimia yang digunakan serta aplikasinya.
Banyak bahan kimia yang dapat berfungsi sebagai desinfektan, tetapi umumnya dikelompokkan ke dalam golongan aldehid atau golongan pereduksi, yaitu bahan kimia yang mengandung gugus -COH; golongan alkohol, yaitu senyawa kimia yang mengandung gugus -OH; golongan halogen atau senyawa terhalogenasi, yaitu senyawa kimia golongan halogen atau yang mengandung gugus -X; golongan fenol dan fenol terhalogenasi, golongan garam amonium kuarterner, golongan pengoksidasi, dan golongan biguanida.
Telah dilakukan perbandingan koefisien fenol turunan aldehid (formalin dan glutaraldehid) dan halogen (iodium dan hipoklorit) terhadap mikroorganisme Staphylococcus aureus dan Salmonella typhi yang resisten terhadap ampisilin dengan tujuan untuk mengetahui keefektifan dari disinfektan turunan aldehid dan halogen yang dibandingkan dengan fenol dengan metode uji koefisien fenol . Fenol digunakan sebagai kontrol positif, aquadest sebagai kontrol negatif dan larutan aldehid dan halogen dalam pengenceran 1 : 100 sampai 1 : 500 dicampur dengan suspensi bakteri Staphylococcus aureus dan Salmonella typhi resisten ampisilin yang telah diinokulum, keburaman pada tabung pengenceran menandakan bakteri masih dapat tumbuh. Nilai koefisien fenol dihitung dengan cara membandingkan aktivitas suatu larutan fenol dengan pengenceran tertentu yang sedang diuji. Hasil dari uji koefisien fenol menunjukan bahwa disinfektan turunan aldehid dan halogen lebih efektif membunuh bakteri Staphylococcus aureus dengan nilai koefisien fenol 3,57 ; 5,71 ; 2,14 ; 2,14 berturut-turut untuk formalin, glutaraldehid, iodium dan hipoklorit, begitu juga dengan bakteri Salmonella typhi, disinfektan aldehid dan halogen masih lebih efektif dengan nilai koefisien fenol 1,81 ; 2,72 ; 2,27 dan 2,27 berturut-turut untuk formalin, glutaraldehid, iodium dan hipoklorit.
2.1.2 Desinfeksi dan Antiseptik
Desinfeksi adalah membunuh mikroorganisme penyebab penyakit dengan bahan kimia atau secara fisik, hal ini dapat mengurangi kemungkinan terjadi infeksi dengan jalam membunuh mikroorganisme patogen. Disinfektan yang tidak berbahaya bagi permukaan tubuh dapat digunakan dan bahan ini dinamakan antiseptik.
Antiseptik adalah zat yang dapat menghambat atau menghancurkan mikroorganisme pada jaringan hidup, sedang desinfeksi digunakan pada benda mati. Desinfektan dapat pula digunakan sebagai antiseptik atau sebaliknya tergantung dari toksisitasnya.
Sebelum dilakukan desinfeksi, penting untuk membersihkan alat-alat tersebut dari debris organik dan bahan-bahan berminyak karena dapat menghambat proses disinfeksi.
Macam-macam desinfektan yang digunakan:
  1. Alkohol
    Etil alkohol atau propil alkohol pada air digunakan untuk mendesinfeksi kulit. Alkohol yang dicampur dengan aldehid digunakan dalam bidang kedokteran gigi unguk mendesinfeksi permukaan, namun ADA tidak menganjurkkan pemakaian alkohol untuk mendesinfeksi permukaan oleh karena cepat menguap tanpa meninggalkan efek sisa.
  2. Aldehid
    Glutaraldehid merupakan salah satu desinfektan yang populer pada kedokteran gigi, baik tunggal maupun dalam bentuk kombinasi. Aldehid merupakan desinfektan yang kuat. Glutaraldehid 2% dapat dipakai untuk mendesinfeksi alat-alat yang tidak dapat disterilkan, diulas dengan kasa steril kemudian diulas kembali dengan kasa steril yang dibasahi dengan akuades, karena glutaraldehid yang tersisa pada instrumen dapat mengiritasi kulit/mukosa, operator harus memakai masker, kacamata pelindung dan sarung tangan heavy duty. Larutan glutaraldehid 2% efektif terhadap bakteri vegetatif seperti M. tuberculosis, fungi, dan virus akan mati dalam waktu 10-20 menit, sedang spora baru alan mati setelah 10 jam.
  3. Biguanid
    Klorheksidin merupakan contoh dari biguanid yang digunakan secara luas dalam bidang kedokteran gigi sebagai antiseptik dan kontrok plak, misalnya 0,4% larutan pada detergen digunakan pada surgical scrub (Hibiscrub), 0,2% klorheksidin glukonat pada larutan air digunakan sebagai bahan antiplak (Corsodyl) dan pada konsentrasi lebih tinggi 2% digunakan sebagai desinfeksi geligi tiruan. Zat ini sangat aktif terhadap bakteri Gram(+) maupun Gram(-). Efektivitasnya pada rongga mulut terutama disebabkan oleh absorpsinya pada hidroksiapatit dan salivary mucus.
  4. Senyawa halogen. Hipoklorit dan povidon-iodin adalah zat oksidasi dan melepaskan ion halide. Walaupun murah dan efektif, zat ini dapat menyebabkan karat pada logam dan cepat diinaktifkan oleh bahan organik (misalnya Chloros, Domestos, dan Betadine).
  5. Fenol
    Larutan jernih, tidak mengiritasi kulit dan dapat digunakan untuk membersihkan alat yang terkontaminasi oleh karena tidak dapat dirusak oleh zat organik. Zat ini bersifat virusidal dan sporosidal yang lemah. Namun karena sebagian besar bakteri dapat dibunuh oleh zat ini, banyak digunakan di rumah sakit dan laboratorium.
  6. Klorsilenol
    Klorsilenol merupakan larutan yang tidak mengiritasi dan banyak digunakan sebagai antiseptik, aktifitasnya rendah terhadap banyak bakteri dan penggunaannya terbatas sebagai desinfektan (misalnya Dettol).
Desinfeksi permukaan
Disinfektan dapat membunuh mikroorganisme patogen pada benda mati. Disinfektan dibedakan menurut kemampuannya membunuh beberapa kelompok mikroorganisme, disinfektan “tingkat tinggi” dapat membunuh virus seperti virus influenza dan herpes, tetapi tidak dapat membunuh virus polio, hepatitis B atau M. tuberculosis.
Untuk mendesinfeksi permukaan dapat dipakai salah satu dari tiga desinfektan seperti iodophor, derivate fenol atau sodium hipokrit :
  • Iodophor dilarutkan menurut petunjuk pabrik. Zat ini harus dilarutkan baru setiap hari dengan akuades. Dalam bentuk larutan, desinfektan ini tetap efektif namun kurang efektif bagi kain atau bahan plastik.
  • Derivat fenol (O-fenil fenol 9% dan O-bensil-P klorofenol 1%) dilarutkan dengan perbandingan 1 : 32 dan larutan tersebut tetap stabil untuk waktu 60 hari. Keuntungannya adalah “efek tinggal” dan kurang menyebabkan perubahan warna pada instrumen atau permukaan keras.
  • Sodium hipoklorit (bahan pemutih pakaian) yang dilarutkan dengan perbandingan 1 : 10 hingga 1 : 100, harganya murah dan sangat efektif. Harus hati-hati untuk beberapa jenis logam karena bersifat korosif, terutama untuk aluminium. Kekurangannya yaitu menyebabkan pemutihan pada pakaian dan menyebabkan baru ruangan seperti kolam renang.
Untuk mendesinfeksi permukaan, umumnya dapat dipakai satu dari tiga desinfektan diatas. Tiap desinfektan tersebut memiliki efektifitas “tingkat menengah” bila permukaan tersebut dibiarkan basah untuk waktu 10 menit.
Setidaknya ada 10 kriteria suatu desinfektan dikatakan ideal, yaitu :
- Bekerja dengan cepat untuk menginaktivasi mikroorganisme pada suhu kamar
- Aktivitasnya tidak dipengaruhi oleh bahan organik, pH, temperatur dan kelembaban
- Tidak toksik pada hewan dan manusia
- Tidak bersifat korosif
- Tidak berwarna dan meninggalkan noda
- Tidak berbau/ baunya disenangi
- Bersifat biodegradable/ mudah diurai
- Larutan stabil
- Mudah digunakan dan ekonomis
- Aktivitas berspektrum luas
Untuk itu, setidaknya ada tiga langkah yang harus dipenuhi dalam pelaksanaan desinfeksi bila ingin hasilnya baik. Pertama, harus dibasuh dengan air, dengan tujuan untuk melarutkan matriks protein. Pada tahap ini, kotoran di permukaan harus dihilangkan dengan cara digosok maupun disapu dan disemprot dengan air.Penggunaan air panas akan lebih efektif dibandingkan dengan air dingin. Kemudian yang kedua, diberi sabun atau deterjen, dengan tujuan untuk melarutkan matriks lemak. Yang terakhir, barulah dipakai desinfeksi.
Berbagai macam desinfektan yang umum digunakan untuk mencuci hamakan kandang dan peralatan. Masing-masing desinfektan tersebut memiliki daya dan sifat yang perlu kita pelajari.
  1. Coustic Soda (NaOH)-soda api. Coustic Soda (NaOH) 2% dapat digunakan untuk pengendalian penyebaran penyakit, yang diakibatkan oleh mikroorganisme, misalnya bakteri, virus dan parasit. Bahan ini sangat baik digunakan untuk pembasmi virus, akan tetapi dalam penggunaanya harus hati-hati, karena bahan ini bersifat keras. Para pemakai harus menggunkan sarung tangan dari karet, karena dalam konsentrasi tertentu dapat mengiritasi kulit. Oleh karena itu, akan sangat berbahaya jika terkena wajah dan mata. kandang yang habis di desinfeksi dengan soda api, harus dibiarkan kosong dulu sampai kondisi kandang misalnya lantai dan dinding menjadi kering. atau bilamana perlu, setelah desinfektan kontak dengan lantai dan dinding, selama +- 8 jam, dapat segera dibilas dengan air bersih. larutan soda api ini sangat efektif untuk membunuh virus IB dan ND.
  2. Lysol. Merupakan desinfektan yang digunakan untuk mendesifeksi kandang dan peralatan sesudah depopulasi (pengosongan kandang) yang dilakukan setelah ayam di afkir atau terkena wabah. Dibandingkan dengan phenol, lysol memiliki kemampuan sebagai pembasmi bakteri yang lebih baik dan tidak beracun. Dapasaran lysol banyak dijual dengan konsentrasi 100% walau dalampemakaianya cukup 2 % saja, sehingga bila kan digunakan harus diencerkan terlebih dahulu.
  3. Phenol 2%. merupakan turunan (derivat) dari phenolkresol. Pada umumnya, derivat ini sangat tahan terhadap hambatan dari sisa-siasa organis. Phenol sangat cocok untuk mendesinfeksi kandang dan bak tempat mencuci alas kaki.
  4. Jodophor ( halogen). Merupakan kelompok desinfektan yang biasa disebut dengan nama halogen. Bahan ini merupakan sintetis dari yodium(halogen) dan zat organis. Desinfektan ini sangat efektif bagi semua kuman, cendawan, virus, serta dapat digunakan dalam berbagai keperluan. Jodophor selain sebagai berfungsi sebagai desinfektan juga berfungsi sebagai snitaizer dan antiseptika.
  5. Formalin 40% (Formaldehyda). Formalin sebagai bahan desinfeksi dapat di gunkan dalam berbagai keperluan, antara lain sebgai berikut.
  1. Untuk Mendesinfeksi lantai dan dinding kandang, digunakan larutan formalin dalam air 4%.
  2. Untuk mendesinfeksi alas kaki, digunakan larutan formalin dalam air 0,5%-1%.
  3. Sebagai bahan atau unsur Fumigasi. Pada kesempatan lain akan saya tuliskan cara penggunaan formalin ini untuk fumigasi.
2.2 Kerangka Pemikiran
Kertas bulat direndam selama 30 menit. Kemudian diletakkan ke dalam media yang telah disediakan. Kertas bulat tersebut menyerap larutan So Klin Lantai selama 30 menit. Sehingga kekuatan desinfektannya sesuai dengan konsentrasi yang telah ditentukan dan dapat membunuh bakteri yang ada di sekitarnya.
Berdasarkan hal tersebut, So Klin Lantai menempel pada kertas bulat dan dapat membunuh mikroba yang ada di sekitarnya.
2.3 Hipotesis Penelitian
Bahwa terjadinya perbedaan kemampuan So Klin Lantai dalam berbagai konsentrasi. Semakin tinggi konsentrasi larutan So Klin Lantai, maka semakin besar daerah halo yang terbentuk.
BAB III
METODOLOGI
3.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen skala laboratorium yang menguji potensi So Klin Lantai dalam membunuh mikroorganisme.
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Sekolah Menengah Analis Kimia Padang, pada tanggal 29 Juli sampai 30 Juli 2009. Tepatnya pada pukul 09.45.
3.3 Populasi dan Sampel
3.3.1. Populasi
Populasi dari penelitian ini adalah mikroorganisme yang diambil dari udara.
3.3.2. Sampel
Sampel yang dianalisis adalah desinfektan yang bermerek So Klin Lantai.
3.4 Instrument Penelitian
a. Alat
1. Cawan Petri
2. Erlenmeyer 250 mL
3. Gelas Piala 250 mL
4. Kuvet
5. Inkubator
6. Lampu Spritus
7. Pinset
8. Pipet Takar 1 mL
b. Bahan
1. Media NA
2. Aquades steril
3. Larutan Desinfektan “So Klin Lantai”
4. Suspensi bakteri udara
5. Alkohol 70 %
6. Kapas penutup
7. Kertas pembungkus cawan
8. Kertas koran
3.5 Eksperimental
3.5.1 Pembuatan Larutan So Klin Lantai dengan konsentrasi 10 %
1. Pastikan semua peralatan telah bersih dan kering serta steril.
2. Dipipet 1 mL larutan So Klin Lantai dengan pipet takar 10 mL. Kemudian masukkan ke dalam gelas piala 250 mL yang telah berisi kertas cakram (berbentuk bulat).
3. Lalu, dipipet larutan pengencer (aquades steril) sebanyak 9 mL. Dan masukkan ke dalam gelas piala yang berisi sample.
4. Kemudian, homogenkan larutan dengan cara menggoyangkannya perlahan – lahan.
3.5.2 Pembuatan larutan So Klin Lantai dengan konsentrasi 15 %
1. Pastikan semua peralatan telah bersih, kering, dan steril.
2. Dipipet 1,5 mL larutan So Klin Lantai dengan pipet takar 10 mL. Masukkan ke dalam gelas piala yang telah berisi kertas cakram.
3. Dipipet 8,5 mL larutan pengencer (aquades steril) dan dimasukkan ke
dalam gelas piala yang berisi sample.
4. Kemudian,homogenkan larutan dengan cara menggoyangkannya perlahan – lahan.
3.5.3. Pembuatan Larutan So Klin Lantai dengan konsentrasi 20 %
1. Pastikan semua peralatan telah bersih, kering, dan steril.
2. Dipipet 2 mL larutan So Klin Lantai dengan pipet takar 10 ml. Dan masukkan ke dalam gelas piala yang telah berisi kertas cakram.
3. Dipipet 8 mL larutan pengencer (aquades steril) dan masukkan ke dalam gelas piala yang berisi sample.
4. Kemudian, homogenkan larutan dengan menggoyangkannya perlahan – lahan.
3.5.4. Pembuatan larutan So Klin Lantai dengan konsentrasi 25 %
1. Pastikan peralatan telah bersih, kering, dan steril.
2. Dipipet 2,5 mL larutan So Klin Lantai dengan pipet takar 10 mL. Dan masukkan ke dalam gelas piala yang telah berisi kertas cakram.
3. Dipipet 7,5 mL larutan pengencer (aquades steril) dan masukkan ke dalam gelas piala yang berisi sample.
4. Kemudian, homogenkan larutan dengan menggoyangkannya perlahan – lahan.
3.5.5. Pengujian Potensi So Klin Lantai dalam Membunuh Mikroba
1. Pastikan semua peralatan telah bersih, kering, dan steril.
2. Dibuat suatu biakan murni. Kemudian ditambahkkan 5 mL aquades ke dalamnya. Dan homogenkan.
3. Dipipet 1 mL dari biakan yang berisi aquades dan dimasukkan ke dalam cawan Petri steril. Lalu tuangkan media NA ke dalam cawan dan homogenkan.
4. Dipotong 2 buah kertas (sesuai kebutuhan) dengan bentuk lingkaran (sebagai cakram) dan direndam ke dalam larutan desinfektan (So Klin Lantai) yang telah diencerkan sesuai dengan konsentrasinya selam 30 menit.
5. Setelah itu, letakkan kertas cakram yang sudah direndam tadi ke dalam cawan Petri yang telah berisi media agar dan suspensi bakteri.
6. Lalu, masukkan ke dalam incubator dan amati selama 2 x 24 jam.
3.6 Analisis Data
1. Konsentrasi 10 %
a. Cawan 1
Diameter cakram = 2,5 cm r = 1,25 cm
Diameter daerah halo = 5 cm r = 2,5 cm
Maka, luas cakram dan luas daerah halo adalah :
Luas cakram = 3,14 x 1,25 cm x 1,25 cm = 4,90625 cm2
Luas daerah halo = 3,14 x 2,5 cm x 2,5 cm = 19,625 cm2
Luas daerah halo sebenarnya = 19,625 cm2– 4,90625 cm2
= 14,71875 cm2
b. Cawan 2
Diameter cakram = 2,5 cm r = 1,25 cm
Diameter daerah halo = 5 cm r = 2,5 cm
Maka, luas cakram dan luas daerah halo adalah :
Luas cakram = 3,14 x 1,25 cm x 1,25 cm = 4,90625 cm2
Luas daerah halo = 3,14 x 2,5 cm x 2,5 cm = 19,625 cm2
Luas daerah halo sebenarnya = 19,625 cm2– 4,90625 cm2
= 14,71875 cm2
Rata – rata Luas daerah halo = 14,72 cm2 + 14,72 cm2 / 2
= 29,44 cm2 / 2
= 14,72 cm2
2. Konsentrasi 15 %
a. Cawan 1
Diameter cakram = 2,5 cm r = 1,25 cm
Diameter daerah halo = 6 cm r = 3 cm
Maka, luas cakram dan luas daerah halo adalah :
Luas cakram = 3,14 x 1,25 cm x 1,25 cm = 4,90625 cm2
Luas daerah halo = 3,14 x 3 cm x 3 cm = 28,26 cm2
Luas daerah halo sebenarnya = 28,26 cm2 – 4,90625 cm2
= 23,35375 cm2
b. Cawan 2
Diameter cakram = 2,5 cm r = 1,25 cm
Diameter daerah halo = 5,5 cm r = 2,75 cm
Maka, luas cakram dan luas daerah halo adalah :
Luas cakram = 3,14 x 1,25 cm x 1,25 cm = 4,90625 cm2
Luas daerah halo = 3,14 x 2,75 cm x 2,75 cm = 23,74625 cm2
Luas daerah halo sebenarnya = 23,74625 cm2 – 4,90625 cm2
= 18,84 cm2
Rata – rata Luas daerah halo = 23,35 cm2 +18,84 cm2 / 2
= 42,19 cm2 / 2
= 21,095 cm2
3. Konsentrasi 20 %
a. Cawan 1
Diameter cakram = 2,4 cm r = 1,2 cm
Diameter daerah halo = 6 cm r = 3 cm
Maka, luas cakram dan luas daerah halo adalah :
Luas cakram = 3,14 x 1,2 cm x 1,2 cm = 4,5216 cm2
Luas daerah halo = 3,14 x 3 cm x 3 cm = 28,26 cm2
Luas daerah halo sebenarnya = 28,26 cm2 – 4,5216 cm2
= 23,7348 cm2
b. Cawan 2
Diameter cakram = 2,4 cm r = 1,2 cm
Diameter daerah halo = 4,5 cm r = 2,25 cm
Maka, luas cakram dan luas daerah halo adalah :
Luas cakram = 3,14 x 1,2 cm x 1,2 cm = 4,5216 cm2
Luas daerah halo = 3,14 x 2,25 cm x 2,25 cm = 15,89625 cm2
Luas daerah halo sebenarnya = 15,89625 cm2 – 4,5216 cm2
= 11,37465 cm2
Rata – rata Luas daerah halo = 23,7348 cm2 + 11,37465 cm2 / 2
= 35,10945 / 2
= 17,55 cm2
4. Konsentrasi 25 %
a. Cawan 1
Diameter cakram = 2,5 cm r = 1,25 cm
Diameter daerah halo = 6,5 cm r = 3,25 cm
Maka, luas cakram dan luas daerah halo adalah :
Luas cakram = 3,14 x 1,25 cm x 1,25 cm = 4,90625 cm2
Luas daerah halo = 3,14 x 3,25 cm x 3,25 cm = 33,16625 cm2
Luas daerah halo sebenarnya = 33,16625 cm2 – 4,90625 cm2
= 28,26 cm2
b. Cawan 2
Diameter cakram = 2,5 cm r = 1,25 cm
Diameter daerah halo = 6 cm r = 3 cm
Maka, luas cakram dan luas daerah halo adalah :
Luas cakram = 3,14 x 1,25 cm x 1,25 cm = 4,90625 cm2
Luas daerah halo = 3,14 x 3 cm x 3 cm = 28,26 cm2
Luas daerah halo sebenarnya = 28,26 cm2 – 4,90625 cm2
= 23,35375 cm2
Rata – rata Luas daerah halo = 28,26 cm2 + 23,35375 cm2 /2
=51,61375 cm2 / 2
= 25,80 cm2
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
No
Konsentrasi
Luas Daerah halo (cm2)
Rata – rata Luas Daerah Halo (cm2)
Cawan 1
Cawan 2
1
10 %
14,71875
14,71875
14,72
2
15 %
23,35375
18,84
21,095
3
20 %
23,7348
11,37465
17,55
4
25 %
28,26
23,35375
25,80
Dari analisis data di atas, dilihat bahwa semakin tinggi konsentrasi larutan So Klin Lantai, maka semakin besar daerah halo yang terbentuk. Hal ini membuktikan bahwa bakteri udara tersebut rentan (tidak tahan) terhadap desinfektan yang bermerek So Klin Lantai. Artinya, So Klin lantai memiliki potensi yang tinggi dalam membunuh mikroorganisme.
Namun, berdasarkan data analisis di atas, terjadi penurunan luas daerah halo pada konsentrasi 20 %. Sedangkan selebihnya semakin meningkat jika konsentrasinya meningkat. Mungkin kesalahan – kesalahan ini diakibatkan oleh kurangnya ketelitian dari pekerja. Karena yang bekerja tidak hanya satu orang saja. Ada 4 kelompok yang melakukan pekerjaan itu dengan cara yang sama. Namun, Mungkin saja ada prosedur yang salah, sehingga hasilnya juga kurang memuaskan. Tetapi, pada prinsipnya kita tahu bahwa semakin tinggi konsentrasi larutan desinfektan So Klin Lantai, maka semakin besar daerah halo yang terbentuk.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa bakteri udara rentan terhadap So Klin Lantai. Hal ini membuktikan bahwa So Klin Lantai mampu membunuh mikroorganisme secara efektif.
5.2 Saran
Untuk itu, penulis menyarankan kepada masyarakat untuk selalu menggunakan desinfektan terutama yang bermerek So Klin Lantai, agar tingkat kesehatan selalu terjaga. Karena dengan konsentrasi yang sedikit, So Klin Lantai sudah mampu membunuh bakteri.
DAFTAR PUSTAKA
Cifferi, O.1999. Microbial Degradation of Paintings. Aplied and environmental Microbiology 65 (3) : 879 – 885
Dawes, I. W dan I.W. Sutherland.1992. Microbial Physiology. 2nd ed. Blackwell Scientific Publications, PP 289
Gabriel, J.F., 1988, Fisika Kedokteran, EGC; Jakarta, hal
Gadd, G. M. 1992. Microbial Control Of Heavy Metal Pollution. Dalam : Fry, J.C., G.M. Gadd, R. A. Herbert, C. W. Jones dan I. A. Watson. Craik (eds). Microbial Control of Pollution. Soecity For General Microbiology Symposium 48. Cambridge University Press. New York, PP 59 – 83
Keeton, T. William, Michael W. Debney, Robert E. Zollinhofer, 1968. Laboratory Guide For Biological Science. W. W. Norton and Company. Inc. New York
Reed, G. (ed.). 1982. Presscott & Dunn’s Industrial Microbiology. 4th ed. AVI Publishing Company, Inc. Westport, Connesticut, PP 883
Suharto, Ign., 1995, Bioteknologi dalam Dunia Industri, Andi Offset;Yogyakarta, hal. 11, 194-195.
GAMBAR KERJA

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar